Ekspedisi Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil

Kamis, 17 November 2011

Menjelajahi Keindahan Paru - Paru Dunia Di Tasik Betung. Desa tasik betung sudah masuk kedalam Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil yaitu di zona penyangga, terletak di Kecamatan Sungai Mandau Kabupaten Siak, Riau. Mempunyai luas 290 Km2 dan mempunyai tiga dusun yang terdiri dari dusun seminai kuning, dusun kampung baru, dan dusun bedeng. Desa ini sebelah utara berbatasan dengan desa Tasik Serai Timur, sebelah selatan berbatasan dengan desa Tumang, sebelah timur berbatasan dengan desa Lubuk Umbut, dan sebelah barat berbatasan dengan Bukit Batu dengan Curah hujan : 120 mm dan Suhu : 30-34oC. Tasik betung berpenduduk 420 jiwa dan terdiri dari 144 kepala keluarga. Untuk tingkat pendidikanya antara lain : SD (70 orang), SMP (48 orang), SMA (14 orang), dan D I-D III (6 orang). Mempunyai fasilitas seperti : Masjid : 2 (dua), Mushala: 1 (satu), Balai pengobatan : 1 (satu), Lapangan volley : 2 (dua), lapangan takraw : 1 (satu), Lapangan sepak bola : 1 (satu), Pasar kecamatan : 1 (satu), Pasar desa : 1 (satu), Koperasi : 1(satu) serta Bangunan SD : 2 (dua).

Nama tasik betung sendiri berawal dari seorang pengembara dari pesisir malaysia yang bernama Sultan Hakim Sale, dengan menggunakan sebuah rakit yang dikemudikannya dengan menggunakan galah yang terbuat dari bambu. Setelah berlayar hingga Sungai Siak Kecil maka sampailah beliau di tepi danau yang sekarang dikenal dengan nama tasik betung, tasik berati danau dan betung sendiri merupakan nama bambu yang di tancapkan di tepi danau tadi. Setelah tiba ditepi danau beliau menancapkan bambu yang dijadikan galah tadi hingga akhirnya lama kelamaan tumbuh dan semakin banyak. Sultan Hakim Saleh pun membuka daerah daerah yang belum ada penghuninya sama sekali ini dan menetap serta berkeluarga untuk melanjutkan keturunan, lambat laun daerah ini semakin ramai hingga menjadi sebuah perkampungan. Karena lama-kelamaan semakin ramai maka desa tasik betung memiliki 8 (delapan) dusun, namun semua itu hanya tinggal cerita saja.

Desa tasik betung kini hanya tinggal 3 dusun, semua ini bukan tidak ada sebabnya. Seperti yang dituturkan oleh pak Burhan seorang yang dituakan didesa ini, “ dulu desa tasik betung memiliki 8 dusun, namun karena masih banyaknya binatang buas yang masuk keperkampungan dan merusak tanaman warga terutama tanaman karet hingga sebagian dari mereka pindah ke daerah lain namun ada juga yang memilih tetap bertahan. Memasuki tahun 1996 PT.AA mulai masuk dan mengklaim tanah yang berada diwilayah desa tasik betung masuk kedalam areal HPHTI nya dan menggusur dusun yang di tinggal pemiliknya”. Namun semua itu bukanlah ditingggalkan untuk selamanya, setelah merasa desa ini aman dari gangguan binatng buas mereka datang kembali untuk mengambil hak-hak mereka dimana di tanah tersebut juga terdapat makam-makam dari orang tua mereka yang sudah berumur ratusan tahun. Namun alangkah terkejutnya mereka saat tiba disana yang mereka lihat hanyalah tanaman HTI, mereka telah mencoba untuk menanyakan hal ini kepada perusahaan dengan membawa bukti berupa surat tanah yang tahun pembuatan sendiri sudah tergolong lama yaitu tahun 1949 namun perusahaan tetap bersikeras bahwa mereka telah memiliki izin umtuk memanfaatkan daerah tersebut tutur pak Burhan. Menurut pak anas kades desa tasik betung, mereka telah melaporkan hal ini kepada pihak kecamatan, bahkan pernah juga mendatangi DPRD Siak yang selanjutnya langsung terjun kelapangan untuk melihat kondisi yang sebenarnya.

Namun lagi-lagi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka menunjukkan bukti izin beroperasi dari menteri kehutanan. Sabtu pagi (28/5) tim ekspedisi mempersiapkan dan kembali mengecek perlengkapan dan logistik untuk kebutuhan selama kegiatan. Pukul 10.00 WIB diadakan acara pembukaan dan pelepasan oleh PD III faperta UR, adapun team ekspedisi ini berjumlah 10 orang yaitu enam orang anggota muda (sudarso, erik, elsa, zulningsih, jalal dan oky) dan empat orang anngota penuh (kak abenk, kak dona, arif dan marto.

Tepat pukul 11.00 WIB team berangkat dari homestay brimapala sungkai menuju desa tasik betung menempuh jarak 149 Km, dan tiba pada pukul 17.30 WIB. Memasuki desa kami disuguhi oleh hutan adat yang masih alami, hal ini tentu sangat kontras dengan pemandangan di sepanjang jalan menuju desa ini karena yang kami lihat hanyalah tanaman HTI (Hutan Tanaman Industri) berupa Akasia dan eucalyptus. Hari pertama minggu (29/5), pukul 08.00-16.00 WIB tim melakukan penyebaran quisioner didusun seminai kuning dan dusun kampung baru sebanyak 33 sampel. Hingga dapt disimpulkan sebagian besar masyarakat setempat berkebun karet dan kelapa sawit, pendidikan yang tergolong masih rendah dan masih berobat kepada dukun walupun sudah ada bidan disana. Untuk adat istiadatnya , pada acara pernikahan memotong kambing dan ada silat pengantin yang disebut silat penian.

Kemudian setiap tiga hari raya idul adha masyarakat setempat berziarah kemakam pendiri desa tersebut dengan membawa 44 edang (piring) nasi kuning untuk kemudian di makan bersama-sama. Hari senin (30/5), datang kembali tiga orang tim diantaranya hendra, irul dan bang sahlan. Di hari kedua tim kembali melanjutkan kegiatan yaitu mendatangi makam sultan hakim saleh pendiri desa tasik betung yang terletak ditengah tasik (danau) dan memiliki hutan yang masih alami dengan luas ± 2 ha, selain itu juga terdapat makam istrinya dan famili. Di tengah perjalanan kami menemukan beberapa jejak binatang buas yang masih sering berkeliaran disekitar pemukiman warga diantaranya jejak harimau dan beruang.

Hutan tempat keberadaan makam ini memeiliki keunikan dimana apabila air tasik meluap tapi tetap daerah sekitar makam ini tidak terendam, warga juga tidak berani untuk menebang atau mengambil pohon disekitar makam karena hutan ini dijaga oleh penunggu gaib yang dipercaya warga akan mendapat kesialan bahkan bisa meninggal. Di hari ketiga (31/5), tim dibagi menjadi 2 (dua) yang terdiri dari tim identifikasi hutan adat dan tim susur danau serta ke zona inti. Hutan adat yang mempunyai luas ± 200 hektar ini memberikan manfaat yang tidak sedikit, baik sebagai penghasil oksigen juga menghasilkan madu sialang, tanaman obat-obatan serta dapat untuk memenuhi kebutuhan papan masyarakat setempat. Papan dari hutan adat ini hanya boleh digunakan untuk keperluan masyarakat setempat dan dilarang untuk dibawa keluar desa tersebut. Tumbuhan yang mendominasi diantarnya meranti, kulim, kruing, ramin, beberapa tanaman obat seperti pasak bumi, pohon kapau. Zona inti giam siak kecil mempunyai luas ± 84.967 hektar, untuk sampai ke zona inti dari desa tasik betung kita harus menyebrang danau dengan menggunakan pompong, kemudian menyusuri sungai siak kecil.

Dipinggir danau banyak ditumbuhi mangrove dan pandan berduri, sementara untuk tumbuhan didalamnya tidak jauh berbeda dengan jenis pohon di hutan adat yaitu didominasi oleh meranti, kulim, kruing dan ramin. Namun sangat disayangkan masyarakat telah keluar masuk untuk membuka lahan yang dijadikan kebun kelapa sawit dan memasng jerat. Menurut pak amir lahan yang berada disekitar permukiman telah digusur oleh PT.AA maka warga membuka lahan disebrang danau yang bertujuan untuk meningkatkan kesehjatraan mereka.

Sebenarnya lahan yang mereka buka sudah masuk kedalam zona inti, namun belum adanya sosialisasi dari pemerintah yang menjelsakan secara resmi bahwa Cagar Alam Biosfer Giam Siak Kecil berada didesa mereka dan belum adanya tapal batas yang jelas. Dan hari rabu (1/6) kami bersiap untuk pulang ke pekanbaru setelah berpamitan dengan kepala desa dan menyerahkan plakat sebagai kenang-kenangan serta ucapan terimakasih. Pukul 09.00 WIB kami memulai perjalan dan sampai di pekanbaru pada pukul 15.00 WIB. (AK 107)

0 komentar:

Posting Komentar

 
SUNGKAI © 2011 | Designed by Hisam Setiawan, in collaboration with Gurindam12, Sungkai