• Hari Boemi Sedunia

    Peringatan Hari Bumi Sedunia keliling kota pekanbaru menggunakan sepeda.

  • Keluarga Besar Sungkai

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Pendakian Gunung Merapi-Sumbar

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Sungkai Next Generation

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

  • Member of Sungkai VII

    Mauris eu wisi. Ut ante ui, aliquet neccon non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris duis sed assa id mauris.

Brimapala Sungkai Adakan Diskusi Lingkungan

Senin, 09 Juli 2012 2 komentar

Kamis (5/7/2012), sebuah diskusi lingkungan bertajuk ”pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di Riau” di suguhkan oleh pengurus Brimapala Sungkai untuk kawan-kawan yang peduli terhadap lingkungan yang bertmepat di halaman Homestay Brimapala Sungkai tercinta.

Dengan mendatangkan dua narasumber yang cantik-cantik dari BPDAS INDRAGIRI ROKAN serta di temani fasilitator yang bijak dan menguasai perbincangan yang akrab kami panggil ‘Kak Abeng’ serta kamerawoman yang baik hati dan gagah ‘Kak Dona’. Diskusi pun berjalan dengan baik diawali dengan perkenalan narasumber, yaitu Ibu Wiwit dan Ibu Tri.

Dikutip dari diskusi, bahwasanya semua daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami adalah daerah aliran sungai. Ternyata pandangan kita selama ini kurang tepat menyebutkan daerah aliran sungai adalah daerah di sekitar sungai.

Ibu Tri mengatakan, di Riau sendiri ada 4 buah daerah aliran sungai yang saat ini diprioritaskan. Diantaranya yaitu DAS ROKAN, DAS SIAK, DAS KAMPAR dan DAS INDRAGIRI. Di masa ini dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi banyak lahan yang telah dibuka di jadikan untuk area pemukiman dan lahan pekerjaan. Dengan semakin banyak lahan yang dibuka, akan memperburuk keadaan daerah aliran sungai. Dan BPDAS berupaya untuk memperbaikinya, dengan mengadakan Pelatihan Pengolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu yang di tujukan untuk masyarakat yang berdomisili di daerah aliran sungai yang bekerjasama dengan pemerintah setempat.

Kawan-kawan pun semakin bersemangat untuk berbincang dengan kedua narasumber ketika dibukanya sesion tanya jawab. Dan kedua narasumber pun ternyata lebih bersemangat untuk menjelaskan permasalah-permasalahan daerah aliran sungai. Mengingat waktu yang terus berjalan, tidak terasa diskusi sudah berjalan 1 jam dan kawan-kawan masih ingin berdiskusi dengan kedua narasumber. Dengan senang hati kedua narasumber memberikan waktu 30 menit melihat kawan-kawan masih sangat bersemangat ingin mengetahui tentang kerusakan dan penanggulangan daerah aliran sungai. Padahal schedul acara hanya 1 jam saja, dan tidak disangka banyak kawan-kawan yang bersemangat untuk membahas tentang lingkungan kita khususnya di Riau. Ini merupakan sebuah apresiasi untuk mereka yang masih peduli terhadap lingkungan kita.

Berita Video dapat diklik disini.

Pelatihan Jurnalistik

Jumat, 29 Juni 2012 0 komentar

Sebagai Mahasiswa Pecinta Alam, selain harus menguasai ilmu yang bergerak di alam bebas kita juga harus mengetahui tentang jurnalistik. Agar kita mampu untuk melaporkan ataupun menulis berita kegiatan kita hingga diketahui orang lain. Maka dari itu Brimapala Sungkai mencoba mengadakan pelatihan ini dengan nara sumber Dona Rahayu dan Hisam Setiawan.

Pelatihan ini dilaksanakan hari kamis (28/6), betempat di homestay Brimapala Sungkai. Pukul 15.00 WIB pelatihan di mulai dengan peserta dari anggota Brimapala Sungkai, Humendala dan mapala Aceh.

Discovery Fisrt Mountain in Riau

Kamis, 05 April 2012 0 komentar

Riau Punya Gunung?

Mungkin itu adalah pertanyaan dibenak teman-teman semua. Ya… gunung Jadi (djadi) namanya, gunung satu-satunya di Riau yang terletak di Desa Sungai Santi kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar. Gunung ini memang belum terekspos karena kurangnya informasi dan tidak adanya promosi dari pemerintah dan masyarakat sekitar. Gunung ini memiliki ketinggian 1100m dpl, jika dilihat dari tngginya gunung ini termasuk gunung yang rendah, tapi tahu kah teman-teman semua waktu yang kami butuhkan untuk menuju puncak hingga turun kembali adalah Sembilan hari perjalanan. Ya, waktu yang relatif lama untuk ketinggian 1100 mdpl.

Kenapa Bisa?

Hal itu dikarenakan gunung ini terdapat di kawasan suaka margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, jadi untuk mencapai puncak gunung jadi tersebut kita harus menempuh banyak sekali puncak bukit dengan ketinggian yang beragam. Hingga waktu yang diperlukan juga lebih banyak dari pendakian-pendakian lainnya.
Siapa aja sih yang melakukan pendakian ini?
Pendakian ini dilakukan oleh sembilan orang yang terdiri dari, lima orang anggota Brimapala Sungkai (Karya rizki, Hendra yudistira, Fahmi siregar, Aulia Putri Siregar dan Arif Kurniawan), dua orang dari River difender ( Akhwan Binawan, Boim) dan dua orang lagi dari Gurindam12.com (Dona Rahayu dan Ryan). Dari sembila orang ini kami dibagi menjadi tiga tim yaitu tim riset, tim dokumentasi dan tim navigasi.

Apa aja yang ada disana?

Sepanjang perjalanan kami banyak menjumpai Meranti, Kuring, beraneka macam Anggrek, Pinus dan banyak lagi flora dataran tinggi lainnya. Selain itu juga ada berneka fauna yang kini mulai langka keberadaannya seperti Harimau Sumatera, Beruang dan Badak walau tidak bertemu langsung dengan hewan-hewan ini tapi kami dapat melihat dari jejak dan tanda-tanda yang ditinggalkan hewan tersebut. Dan yang lebih mengesankan adalah saat perjalanan pulang kami dimanjakan dengan keindahan air terjun yang benar-benar indah dam masih jauh dari ulah usil manusia.
Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 29 Desemner 2011 sampai 7 Januari 2012, dimana kami berangkat dari pekanbaru menuju lokasi namun karena jalan terputus akibat longsor maka kami memutuskan untuk membuat camp dan menginap. Pagi nya kami harus melanjutkan perjalanan lebih kurang 4 km dengan berjalan kaki menuju Desa Sungai Santi.

Hasil tim riset dari Ekspedisi 12-12 kami banyak menemukan titik mata air disepanjang kawasan gunung Jadi, beberapa titik mata air akan mengalirkannya ke beberapa daerah yang kawasannya lebih rendah sehingga menjadi kawasan sungai-sungai kecil dari beberapa jari-jari yang ada di Gunung Jadi.

Sungai-sungai kecil dari hulu inilah yang akirnya bermuara pada hilir sungai yang lebih besar, sehingga keberadaan sungai yang ada dikaki gunung Jadi dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai ujung tombak kehidupan mereka. Dimulai dari alat transportasi untuk membawa getah karet kedesa tetangga, menjadi nelayan, mengkonsumsi airnya, mandi, mencuci, bahkan menjadikanya sebagai kakus. Sepanjang perjalanan ekspedeisi yang kami lakukan, kami menemukan juga 7 (tujuh) titik air terjun yang kami simpan dalam GPS yang kami gunakan, mulai dari yang tingginya sekitar tujuh meter hingga sekitar tiga puluh meter. Gemuruh air terjun yang jatuh kebawah membuat suasana haru bagi tim ekspedisi kami, ini menandakan bahwa hampir keseluruhan dari perjalanan ekspedisi ini kami menemukan cerita yang komplit.
Mulai dari vegetasi hutan yang sangat beragam, beraneka jenis satwa yang kami temui walaupun hanya meninggalkan bekas berupa cakaran maupun jejak, menyusuri sungai yang berpotensi sebagai olah raga arung jeram, menemui beberapa goa yang juga memiliki potensi bagi para pegiat caving.

Vegetasi hutan yang sangat rapat menandakan bahwa kawasan tersebut terjaga dengan baik, kami menemukan beberapa tanaman kunci dari hutan ini. Meranti, Pinus, Rotan, Manau, Kruing dan tumbuhan Pakis merupakan tanaman kunci hal ini dikarenakan bahwa populasi yang sering kami temui sangat banyak tumbuh didalan kawasan hutan gunung djadi.

Di ketinggian puncak 865 meter diatas permukaan laut (mdpl) yang kami lewati hanya terdapat satu jenis tanaman saja yaitu populasi tanaman pinus, tanaman ini tumbuh subur dengan memiliki ketinggian yang relative pendek dari biasanya kira-kira tingginya hanya sekitar dua meter saja. Di beberapa ketinggian puncak yang kami lewati rata-rata tanaman yang paling kami temui adalah jenis tanaman kruing dan meranti.

Dari hasil beberapa penuturan masyarakat yang kami temui didesa sungai santi bahwa di dalam hutan tersebut juga ditemui tanaman gaharu, namun saat kami melaksanakan pendakian tim kami tidak menemui sebatang pun pohon gaharu.
Setelah tim berhasil menaklukan gunung Jadi, tim bergegas untuk melaksanakan ekspedisi lanjutan dengan mencoba menyusuri sungai untuk menemukan jalan pulang menuju desa sungai santi. Selama perjalanan menyusuri sungai kami memiliki banyak cerita yang seru mengenai perjalanan kami kali ini, kami menemukan tiga air terjun yang dengan gagahnya berdiri seraya menunjukan keanggunannya kepada kami.

Kami mulai memcoba menyusuri aliran air terjun tersebut dan kami mencoba menyamakanya dengan peta yang telah kami bawa sebelumnya dan tidak lupa kami mengambil titik koordinat untuk menetapkan jalur susur sungai kami, betapa kagetnya tim kami saat beberapa kilometer dari perjalanan kami kami menemukan kembali air terjun yang cukup tinggi dan memiliki kedalaman sekitar empat meter.
Ditambah lagi disamping beberapa air terjun yang kami temui kami juga melihat beberapa kelelawar berterbangan, mungkjin saja mereka terkejut atas suara gaduh yang kami timbulkan. Dan setelah kami selidiki ternyata disamping air terjun tersebut terdapat dua buah goa yang saling berdempetan, sayang sekali lagi kami tidak bisa mengambil gambarnya sebagai dokumentasi kami karena tidak dapat terjangkau oleh kamera kami.(Gurindam12.com)

Nah…buat teman-teman semua yang ngaku memiliki jiwa adventure, Gunung Jadi merupakan salah satu tempat yang tidak boleh dilewatkan. Karena adrenalin kamu akan selalu terpacu disetiap langkah perjalanan kamu.

SHELTER SUNGKAI III

0 komentar

Pengurus Brimapala Sungkai mengadakan suatu kegiatan dengan tema “Bersatu dalam Olahraga bersama Menyelamatkan Bumi”. Bertempat dilapangan Basket Fakultas Pertanian Universitas Riau – Panam. Brimapala Sungkai mencoba mengemas beberapa agenda kedalam sebuah kegiatan bernama SHELTER III, adapun agenda kegiatan yang disajikan dalam kegiatan ini antara lain : Futsal Ladies, Pameran Foto, Pameran Alat Pecinta Alam, Pendaftaran Calon Anggota Sungkai (CAS) dan Live Musik.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 minggu, dari tanggal 6-18 Desember 2011, dengan tujuan (1). Memberikan gambaran dan motifasi kepada generasi muda khususnya Mahasiswa terhadap kelestarian lingkungan (2). Menjalin silatuhrahmi antara mahasiswa/i FAPERTA UR (3). Memberikan pengetahuan kepada Mahasiswa tentang akibat kerusakan lingkungan dengan olahraga.

Jika yang mengikuti turnament sebanyak 16 tim terdiri dari 13 dari FAPERTA dan 3 tim lagi dari FAPERIKA setelah melewati babak penyisihan yang cukup ketat dan diperoleh 4 tim yang melaju ke babak semifinal (the Chemunguth, Alay FC, Ladies SKY dan ALL Star FC), di babak semifinal The Chemunguth berhasil mengalahkan Alay FC berhak melaju ke final sementara Ladies SKY harus mengakui keunnggulan All Star FC.

Hari Sabtu (8/12), Final antara Ladies SKY vs Alay FC memperebutkan peringkat 3, dimana Ladies SKY memenangkan pertandingan dengan memperoleh peringkat 3. Sementara The Chemunguth vs All Star FC memperebutkan perngkat 1 dan runner up, hinggga babak kedua berakhir kedudukan masih samam hingga terjadi adu pinalti yang sangant dramatis. Namun The Chemunguth harus puas berada di runner up dan mengakui keunggulan All Star FC yang menjadi juara Turnament Futsal Ladies Shelter Sungkai III di tutup dengan penyerahan hadiah pada pemenang dan menikmati live musik dari Band lokal UR seperti D’green.

Wajah Baru Homestay Sungkai

Selasa, 27 Desember 2011 0 komentar

Sungkai mulai berbenah, mencoba sesuatu yang baru dengan merenovasi homestay. walaupun dengan biaya yang minim kita mencoba merubah tampilan wajah homestay. berharap kakak-kaka dan abang-abang bisa lebih sering ke homestay.

Pelantikan Anggota Sungkai XVIII | 2011

Kamis, 17 November 2011 1 komentar

Alhamdulilah kini anggota Brimapala Sungkai telah bertambah menjadi 110. Selamat kepada kawan-kawan yang telah menyelasaikan pelantikan XVIII dengan baik (27-30 Oktober 2011). Semoga bisa memajukan sungkai untuk kedepannya, lebih memacu kreatifitas dan lebih peduli pada alam kita yang sudah tua ini. Adapun anggota baru tersebut antara lain : ZULNINGSIH (108-SXVIII-11), JALALUDIN (109-SXVIII-11) DAN OKI BEREZKI (110-SXVIII-11)

Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia | 2011

0 komentar

Dalam rangka mempringati hari lingkungan hidup yang jatuh tepat pada tanggal 5 juni 2011, pecinta alam se-Riau membentuk panitia demi melancarkan kegiatan ini, dan terpilih lah hery dani (oi-oi sungkai) sebagai ketua panitia. Hari sabtu (4/6) malam semua berkumpul disamping pustaka wilayah di jalan jendral sudirman guna persiapan dan merancang untuk kegiatan besok.

Kami memulai kegiatan ini pukul 09.00 WIB dan kembali berkumpul disamping pustaka wilayah di jalan jendral sudirman yakni mempersiapkan body painting untuk acara teaterikal dan melakukan pengumpulan bibit yang mana bibit ini dibawa langsung oleh PA se-Riau dari masing-masing home stay sebanyak 10 bibit, yang datang pada saat acara dari berbagai macam PA mulai dari, KPA,Mapala,atau pun Sispala, dari Universitas Riau ada Brimapala Sungkai, Kommapala Winnetou, KPA EMC2, Mapala Humendala, Mapala Sakai, Mapala Suluh, Mapala Phylomina, atau pun dari Mapalindup, dari Universitas Islam Riau ada Mapala Jati, Mapala Fasifik, Mafakumpala, Mapala Satwa Sahara, atau pun Mapala Uir, ada Wanapalhi dari STMIK dan yang lainnya ada Mapala Polipera dari Pasir Pengarayan, Mapala Laksamana dan Mapala Stie’s dari Bengkalis, dari Sispala yang datang ada Gempita dari SMA N 3, Pelepah dan Sikai, dan dari KPA ada KPA Puncak.

Setelah mempersiapkan sang body painting kami meleanjutkan aksi, teaterikal, dan pembagian bibit kebundaran depan kantor Gubernur, yang mana inti dari aksi, teaterikal, dan pembagian bibit tersebut yakni untuk mengingatkan masyarakat bahwa tanggal 5 Juni merupakan hari Lingkungan Hidup dan mengajak masyarakat akan sadar terhadap keadaan yang kita alami pada saat ini yakni meningkatnya suhu panas dibumi, yang disebabkan oleh efek rumah kaca, gas CFC yang berasal dari AC, polusi kendaraan bermotor dari bahan bakar fosil dan penebangan hutan secara sembarangan tanpa memikirkan akibat yang dapat ditimbulkan. Selesai kegiatan ini pukul 11.30 WIB yang kemudian dilanjutkan dengan ishoma hingga pukul 13.30 WIB.

Kkemudian kami melanjutkan perjalanan konfoi menggunakan sepeda motor kekampus Stikes Hang Tuah, sesampainya di kampus Stikes Hang Tuah kami langsung melaksanakan diskusi untuk membahas bagaimana agar PA se-Riau dapat mempunyai waktu untuk berkumpul agar dapat saling kenal antar satu dengan yang lainnya, setelah berdiskusi maka didapatlah hasil bahwa PA se-Riau akan berkumpul 1 kali dalam 1 tahun dengan nama “PURNAMA Pencita Alam se-Riau”
(erik)

 
SUNGKAI © 2011 | Designed by Hisam Setiawan, in collaboration with Gurindam12, Sungkai